Rabu, 18 Januari 2012

Hadis Sebagai Sumber Pencerahan

Muhammad Khoirul Huda*

Filsafat abad pencerahan melihat bahwa sejatinya dunia ini dipetakan ke dalam dua wilayah saja, mitos dan logos. Dunia mitos merupakan wilayah gelap di mana manusia tidak memiliki kesadaran atas dirinya dan alam sekitarnya. Manusia yang hanya sekadar mengikuti tanpa kesadaran kritis dianggap telah masih dikuasai oleh mitos-mitos. Di sini, apapun dapat menjadi mitos dalam takaran tertentu. Baik itu ilmu pengetahuan, ideologi, maupun doktrin agama. Yakni ketika semua itu digunakan tanpa didasari oleh suatu kesadaran rasional. Sebaliknya, wilayah logos [umumnya diartikan ‘ilmu’] menjadi wilyah yang terang karena manusia dapat secara sadar melihat dunianya. Eksplorasi dunia dengan segala bentuknya saat ini, yang mentahbiskan manusia sebagai penguasa tunggal, diyakini bersumber dan dimulai dari sejak manusia berhasil memasuki wilayah logos. Logos yang beranakkan ‘pencerahan’ menjadi kutub positif dalam melihat dunia. Sedangkan mitos, menjadi sisi gelap dan negatif, yang harus dijauhi. Mitos adalah kebodohan, kejahiliahan, ketidaktahuan yang menyebabkan manusia dikuasai oleh yang lain.


Dunia sudah dikuasai oleh logos-logos. Dalam ilmu pengetahuan, keyakinan keagamaan, dan ideologi. Pengetahuan harus rasional, lebih khusus lagi, harus positivistik. Beragama juga harus rasional. Doktrin tentang setan-jin harus dirasionalkan dengan menafsirkannya sebagai kuman. Bernegara juga harus rasional. Tahu fungsi, tujuan, dan cara-cara pelaksanaannya.  Me-logos-kan dunia berarti menyingkirkan hal-hal yang tidak diketahui dengan menggunakan instrumen rasio. Bukan kitab suci. Lebih-lebih kitab lain yang tidak suci. Logos-logos berusaha menciptakan tata kehidupan untuk manusia. Suatu pedoman atau petunjuk untuk berkehidupan.  Fungsi ini pada dasarnya sama dengan maksud kitab suci. Sama pula dengan tujuan mitos. Manusia mempercayai kitab suci dan mitos-mitos sebagai pedoman kehidupan mereka. Manusia tidak berani menentang logos, sebagaimana mereka tidak berani melawan kitab suci dan mitos yang mereka yakini. Karena, dengan itu, niscaya mereka akan kehilangan petunjuk hidup. Kehilangan petunjuk akan menjadi awal kehancuran suatu umat. Karenanya, ideologi, ilmu pengetahuan, dan agama akan tetap hidup dalam benak masyarakat. Ketiganya merupakan sumber pencerahan umat yang tetap konsisten hingga saat ini. Terlepas dari benar-tidaknya sumber pencerahan itu.

Demikian pula kita, kaum muslimin, mempercayai kebenaran Nabi Muhammad saw. berikut ajaran-ajarannya. Jalan hidup yang telah beliau ajarkan merupakan petunjuk yang berharga yang telah membimbing jutaan orang, dari generasi ke generasi  kaum muslimin, selama lebih dari empat belas abad, untuk menapaki kehidupan di dunia. Melalui al-Quran, Nabi mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan. Melalui perkataan, tindakan, dan sikapnya, beliau menjelaskan prinsip-prinsip itu. Generasi awal kaum muslimin telah mendokumentasikan detil-detil kehidupan beliau hanya untuk satu hal. Diikuti. Nabi Muhammad saw. bukan sekadar pembawa petunjuk. Tapi petunjuk itu sendiri. Sama seperti al-Quran, bukan kitab  tempat kumpulan petunjuk. Tapi al-Quran adalah petunjuk itu sendiri. Demikian bahasa-bahasa hiperbolik yang sering dipakai al-Quran. Al-Quran dan Nabi Muhammad merupakan dua entitas, namun memiliki jati diri yang sama. Aisyah ra. menyimpulkan, bahwa perilaku Nabi merupakan representasi nilai-nilai al-Quran. Nabi adalah al-Quran berjalan. Inilah mengapa perkataan beliau begitu banyak dicatat dan dikutip. Perkataannya sangat berharga. Bagaimana tidak? Hingga saat ini, perkataannya yang dicatat dalam kitab-kitab kumpulan hadis, yang jumlahnya mencapai ribuan, masih diyakini dan diikuti. Masih dipercayai sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan. Masih diyakini sebagai sumber pencerahan. Dan memang benar sabda beliau, “Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar ucapanku, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada orang lain.” [HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Darimi, al-Thabrani, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Baihaqi, dan lainnya].

Mencerahkan’ dalam redaksi aslinya dengan menggunakan kata naddhara [nun-dhadh-ra’]. Menurut Ibnu Manzhur [690-771 H.], pakar leksikograf abad delapan, naddhara diambil dari kata nadhrah yang berarti nikmat, kelapangan dalam rizki, dan kekayaan. Adapula makna baik dan indah. Secara khusus, pengertian naddhara dalam hadis di atas adalah baiknya perilaku dan kemuliaan derajat [Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, vol 5, hlm. 210]. Al-Mubarakfuri, pakar hadis kenamaan India, memahami bahwa maksudnya adalah Allah mengistimewakannya dengan kebahagiaan karena ilmu dan derajat yang mulia di hadapan manusia saat di dunia, dan kenikmatan di akhirat. Inilah yang membuat wajahnya ceria, cerah, dan bersinar. Keceriaan dan kecerahan wajah merupakan tanda kebahagiaan. [al-Mubarakfuri, ‘Aun al-Ma’bud, vol 5, hlm. 347]. Sabda-sabda Nabi telah menerangi jalan kaum muslimin. Sejak pertama kali komunitas ini didirikan hingga ketika mereka berjumlah sekitar 2 miliar manusia saat ini. Sabda, tindakan, dan sikap Nabi saw. menjadi pedoman mayoritas mereka. Dengan demikian, menjadikan sabda-sabda Nabi saw. sebagai sumber pencerahan tidak salah bukan?    

*Penulis adalah Mahasantri IIHS Darus-Sunnah semester III, karyawan pada Forum “Bengkel Hadis” Ciputat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar